Awal mula menulis buku ini ketika banyak orang meminta Soe Tjen Marching dan sesama korban untuk melupakan peristiwa pembantaian massal 1965 di Indonesia. Ini bukanlah perihal untuk memaafkan apalagi melupakan melainkan perihal ketakutan yang tanpa disadari sudah menghambat korban peristiwa 1965 untuk terus mempertanyakan dan mencari kebenaran sejarah. Padahal, apa yang terjadi pada tahun 1965 berdampak besar dan masih terjadi hingga kini. Akan tetapi, karena ketakutan ini, tanpa disadari keluarga dan orang-orang terdekat sudah menjadi “kaki tangan” Orde Baru untuk terus melanggengkan ideologi mereka: membungkam untuk tidak berbicara dan bercerita.

“Seperti apa yang saya alami sendiri. Mama dan kakak-kakak saya terus menyembunyikan cerita masa lalu tentang peristiwa 1965 dan tentang papa saya yang saya kira adalah orang jahat. Itu semata untuk melindungi saya,” cerita Soe Tjen di depan pendengar pada Selasa pagi (9/8/2016) lalu di Ruang Sidang A, Sekolah Pascasarjana, UGM.

 

Soe Tjen Marching sejak 2013 mulai menulis buku The End of Silence: Accounts of the 1965 Genocide in Indonesia yang diterbitkan oleh Amsterdam University Press pada April 2017. Buku ini bercerita tentang memori pembantaian massal pada 1965 di Indonesia yang hingga hari ini stigma terhadap korban dan keluarga korban masih tertanam kuat pada masyarakat. Ada banyak korban, saudara korban, anak, dan cucu korban yang tidak mengetahui peristiwa ini kemudian menjadi korban atas stigmatisasi yang dilekatkan dan diwariskan oleh Orde Baru kepada mereka. Soe Tjen menyebut peristiwa ini sebagai pembantaian massal atas memori. Implikasi paling nyata dan menubuh atas korban ialah ketakutan yang mengakar dan kuat untuk membicarakan, menceritakan, mengungkap atas apa yang terjadi dan yang mereka alami atas peristiwa tersebut hingga kini.

 

“Pada titik inilah, meski Suharto sudah mati sejak bertahun yang lalu, tapi teror berupa ketakutan-ketakutan, bahkan untuk berceritan saja, masih dialami oleh korban dan keluarga korban peristiwa 1965. Melalui teror ketakutan tersebut ideologi Orde Baru terus dirawat,” jelas Soe Tjen.

 

Soe Tjen melalui bukunya, mengajak korban dan keluarga korban tregadi 1965 untuk tidak takut berbicara dan bercerita tentang apa yang mereka alami pada masa itu dan masa pasca-Orde Baru. Karena melalui cerita-cerita itulah ketidakadilan berupa stigmatisasi terhadap mereka dapat diungkap dan bagian dari cara-cara menuju rekonsiliasi sejarah sosial, politik, dan budaya Indonesia. Soe Tjen memulai dengan kisah yang ia alami sendiri ketika masa kanak-kanak dan remaja, melalui pengalaman dan cerita-cerita dari ibunda, serta saudara-saudaranya. Tak ketinggalan mengorek kisah sejarah politik ayahanda yang pernah bersentuhan dengan Partai Komunis Indonesia.

 

“Kita memiliki hak untuk bicara tanda rasa takut. Peristiwa ini harus diselesaikan. Karena ada banyak dampak dari peristiwa 1965: pelanggaran hak asasi di Papua, kekuatan militer, dan kebakaran pada 2015 di Kalimantan. Mengungkapapa yang terjadipadadirikita, keluarga, dan seputarkitaadalahsebuahawal,” tegas Soe Tjen. (Tim Media KBM/Adek)