Masih dalam rangkaian Lustrum ke-4, pada Jumat (7/11) Program Studi Kajian Budaya dan Media (KBM) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan kuliah tamu bersama Dr. Tomoko Tamari dengan tajuk Human Perception and Digital Information Technologies: Animation, The Body, and Affect. Pada acara yang berlangsung di Auditorium Sekolah Pascasarjana UGM ini, Tamari mengajak peserta untuk menengok kembali sejauh mana manusia dan teknologi hari ini saling terhubung.
Dalam sesi pertama berjudul “Digital Futures: Speculative Bodies and the Digital Self”, Tamari membahas bagaimana praktik artistik kontemporer menantang cara kita memahami tubuh, diri, dan moralitas di era digital. Melalui proyek spekulatif seperti (Im)possible Baby karya Ai Hasegawa dan 3D art karya Ines Alpha, Tamari menyoroti bagaimana teknologi digital dan bioteknologi membentuk digital self (diri digital).

Karya 3D make-up futuristik Alpha, misalnya, menyoroti bagaimana teknologi memungkinkan hadirnya imaji diri digital tak terbatas tanpa memengaruhi tubuh biologis kita. Mengutip psikoanalis Jacques Lacan, Tamari menyebut fenomena ini sebagai ‘extimate’—sebuah entitas teknologi yang terasa intim sekaligus asing (intimate Other). Sementara itu, karya Hasegawa berspekulasi tentang bioteknologi yang memungkinkan pasangan sesama jenis memiliki anak. Karya ini memvisualisasikan bagaimana subjektivitas dinegosiasikan dan menantang gagasan kita tentang diri sebagai makhluk moral.
Pada sesi kedua, “Arts and Robotics: Human-Machine Collaborative Artistic Practices“, Tamari, yang juga dari Goldsmiths, University of London, membahas kolaborasi antara manusia dan mesin dalam praktik seni. Ia menolak gagasan “kesadaran tanpa tubuh” (disembodied consciousness), menekankan bahwa tubuh dan kesadaran memiliki hubungan timbal balik setara: tak hanya kesadaran yang membentuk tubuh, tetapi juga tubuh menentukan bagaimana cara kita berpikir.

Seperti diri digital, robot yang dipersonalisasi sesuai dengan kehendak pengguna juga dapat dilihat sebagai intimate other. Tamari menyimpulkan bahwa robot bisa berperan sebagai alat bagi seniman, material, sekaligus penampil. Mengutip triadic agency model dari Johnson dan Verdicchio, ia melihat bagaimana seni dapat mewujud melalui kolaborasi antara pengguna, programmer, dan robot sebagai artefak. Di era ini, menurut Tamari, ‘mengapa dan bagaimana manusia mengkonstruksi seni’ lebih vital dipertanyakan daripada apakah sesuatu itu adalah seni.
Kuliah tamu yang diselingi diskusi hangat dengan peserta ini berakhir pada pukul 12:00 WIB. Pada akhir sesi, Tamari mengingatkan kita untuk terus menerus berusaha memahami tubuh biologis dan fisik sebagai pintu untuk memahami dunia sosial. Lebih jauh, ia berpesan agar kita selalu sadar terhadap realitas semacam apa yang hendak kita bangun dengan adanya teknologi. Mengutip Tamari, “We should use tool. Not used by tools”.
Kontributor: Fatimah Vitri Imania