Dari Kuliner Prawirotaman hingga Selebritisasi Ferdi Sambo: Diskusi dan Peluncuran Buku Karya Akademisi dan Alumni KBM

Bukan maraton film apalagi lari maraton, program studi Kajian Budaya dan Media (KBM) Universitas Gadjah Mada (UGM) maraton diskusi sekaligus peluncuran tiga buku dalam sehari pada Jumat (14/11). Tiga buku yang peluncurannya jadi bagian dari rangkaian Lustrum ke-4 KBM tersebut adalah karya akademisi dan alumni KBM yang disunting oleh Dr. Arifah Rahmawati, Budiawan, S.S., M.A., PhD, dan Ardhie Raditya. Buku-buku ini berisi dokumentasi tanggapan kritis terhadap berbagai isu sosial yang terjadi hari-hari ini, sekaligus ‘ruang intip’ bagi pembaca untuk mengenali lingkup penelitian KBM.

Diskusi buku pertama, Kala Lokal dan Global Berjumpa dalam Praktik Budaya dan Media di Indonesia, diwakili oleh Anugrah Pambudi W, M.A dan Farisa Iffa Tiara Dewi, S.I.Kom yang hadir mewakili penulis buku, misalnya. Anugrah menelisik perkelindanan antara lokalitas, transkultural dan kemungkinan adanya imperialisme budaya dalam konten-konten Jepang Jowo. Sedang Farisa pada buku tersebut menulis tentang pertemuan ‘lokal’ dan ‘global’ di buku menu ViaVia Yogyakarta. 

Buku kedua, Pertemanan dan Pesohor di Ruang Siber, punya latar belakang yang menarik. Dua belas tulisan di dalamnya merupakan pengembangan dari tugas Ujian Tengah Semester (UTS) S2 KBM angkatan 2024, tepatnya pada mata kuliah Budaya Siber dan Digitalisasi Masyarakat. Tulisan-tulisan di dalamnya menjawab dua pertanyaan tentang pertemanan di dunia offline dan online serta viralitas versus visibilitas. Dr. Awanis Akalili yang hadir sebagai pembahas dalam diskusi menilai bahwa buku ini dapat menjadi rujukan dalam melihat bagaimana pengguna online membangun relasi dan menegosiasi diri. 

Diskusi terakhir, buku Identitas yang Terbelah; Khalayak Aktif, Interseksionalitas Perempuan, dan Perlawanan Senyap Anak Muda Indonesia diwakili oleh tiga penulis. Yakni Adek Risma Dedes, S.S., M.A., Rinta Arina Manasikana, S.I.Kom, M.A., dan Nurizky Adhi Hutama, S.E., M.A. Diskusi ini dibuka dengan cerita Adek tentang tulisannya yang mengulas selebritisasi kriminal dan viktimisasi media dalam kasus Ferdi Sambo. Sementara itu, paparan Rinta dan Nurizky menyulap ruang 307 Sekolah Pascasarjana UGM jadi bernuansa ‘jejepangan’. Sebab, keduanya membahas fenomena fandom Jepang dalam konteks masyarakat Indonesia. 

Terbitnya tiga buku ini merupakan bukti komitmen KBM untuk memelihara budaya berpikir kritis menanggapi fenomena sosial, terutama di era digital yang membuat segala hal berubah dengan sangat cepat. 

 

Kontributor: Fatimah Vitri Imania

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*