Budaya konsumerisme yang mengedepankan kemewahan tanpa batas kini menghadapi ujian paling serius, yakni keberlanjutan. Inilah pesan utama Prof. Dr. Mike Featherstone, sosiolog terkemuka dari Goldsmiths, University of London, dalam kuliah umum bertajuk “Consumer Culture: Luxury and Sustainability” yang digelar oleh Program Studi Kajian Budaya dan Media (KBM) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Kamis, 6 November 2025. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari perayaan Lustrum ke-20 KBM, yang menandai kiprah program studi ini dalam menumbuhkan dan membudayakan nalar kritis di tengah perubahan sosial dan budaya global.
Kuliah umum yang dihadiri lebih dari 200 peserta ini berlangsung di Auditorium Lantai 5 Gedung Sekolah Pascasarjana UGM. Acara dibuka oleh Ketua Program Studi Doktoral KBM UGM Budiawan, Ph.D., disusul sambutan oleh Dekan Sekolah Pascasarjana UGM Prof. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., Ph.D., dan secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA.
Dalam kuliahnya, Featherstone menjelaskan bagaimana luxury berubah dari simbol aristokrasi menjadi gaya hidup massal yang menopang kapitalisme global. Ia menyoroti bahwa kemewahan kini hadir di setiap aspek kehidupan sebagai janji kebebasan dan pencapaian diri, namun justru memperdalam ketimpangan sosial dan memperparah krisis ekologis. Mengutip Jean Baudrillard, Featherstone menyebut manusia modern hidup dalam “aesthetic hallucination of reality,” dunia di mana citra dan konsumsi menggantikan realitas itu sendiri.
Ia juga mengingatkan bahwa di balik gemerlap budaya konsumsi, kekayaan global terpusat pada segelintir elit, sementara mayoritas terjebak dalam kelelahan konsumtif. Mengutip Ulrich Beck dan Bruno Latour, Featherstone menegaskan perlunya meninggalkan ilusi “planet tanpa batas” dan belajar menghuni bumi dengan cara yang lebih berkesadaran.
Menutup kuliah umumnya, Featherstone mengajak audiens untuk melihat kemewahan bukan semata sebagai benda atau gaya hidup, melainkan sebagai pengalaman batin yang terikat pada ingatan, makna, dan kepekaan terhadap dunia. Ia menyoroti pandangan Walter Benjamin tentang nilai benda-benda keseharian yang “terlupakan”, seperti tiket, bungkus makanan, atau potongan kecil kehidupan, yang justru bisa memunculkan kembali kenangan, emosi, dan nilai yang tak ternilai. Dengan kata lain, kemewahan sejati bisa hadir dalam hal-hal sederhana yang menyimpan daya afektif dan memori manusia.
Featherstone kemudian menutup dengan refleksi spiritual yang berakar pada motto Fransiskan, “Nihil habentes, omnia possidentes” having nothing, yet possessing everything. Ia menyitir pemikiran Georg Simmel tentang ketegangan antara kebudayaan objektif dan subjektif, serta menegaskan bahwa kebebasan sejati justru dimiliki oleh mereka yang tidak dikuasai oleh benda-benda. Dalam kondisi “tidak memiliki apa-apa,” manusia bisa merasakan kemewahan immaterial yakni kebahagiaan, rasa syukur, dan kemampuan mengapresiasi keindahan dunia di sekitarnya.
Kuliah umum ini dimoderatori oleh Dr. Suzie Handajani, M.A., dosen KBM dan Departemen Antropologi UGM, yang memandu diskusi hangat antara Featherstone dan peserta dari berbagai latar belakang. Dalam sesi tanya-jawab, muncul pertanyaan reflektif tentang bagaimana perkembangan budaya konsumerisme dapat dibaca sebagai gejala sosial yang menuntut pemikiran kritis dan kontekstual.
Dengan menghadirkan pemikir kelas dunia seperti Featherstone, KBM UGM menegaskan komitmennya untuk memperluas cakrawala keilmuan dan mempertajam sensitivitas kritis terhadap isu-isu kontemporer, dari budaya konsumerisme, media, hingga keberlanjutan.
Kontributor: Febriany Dian Aritya Putri