Kegiatan Research Week Day 1 yang diselenggarakan oleh Program Studi Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada berlangsung pada Senin, 23 Februari 2026 pukul 13.00–15.00 WIB secara daring. Mengangkat tema “Visibilitas dan Pengakuan dalam Budaya Visual,” sesi ini menghadirkan dua pemateri yang membahas isu representasi visual, budaya populer, serta dinamika produksi film dalam konteks sosial dan politik budaya.
Acara dipandu oleh Dr. Kusnul Fitria sebagai moderator yang memfasilitasi jalannya diskusi secara interaktif. Dua pembicara yang hadir dalam sesi ini adalah Abd. Haris Nusa Bela, M.A. dan Naufal Shabri, M.A. yang masing-masing mempresentasikan penelitian mereka terkait budaya visual dan industri film.
Pada sesi pertama, Abd. Haris Nusa Bela, M.A. mempresentasikan riset berjudul “Melintas Realitas: Remediasi Queer Gaze dalam Serial Boys Love Thailand Lovesick (2014) dan Lovesick (2024).” Dalam pemaparannya, Haris, begitu ia akrab disapa menjelaskan bahwa serial Boys Love (BL) Thailand tidak hanya berfungsi sebagai hiburan populer, tetapi juga menjadi ruang yang menghadirkan berbagai representasi identitas dan relasi gender. Ia menyoroti bagaimana konsep queer gaze dapat digunakan untuk memahami cara pandang visual yang berbeda dari norma heteronormatif yang selama ini dominan dalam media arus utama. Melalui perbandingan antara versi Lovesick tahun 2014 dan 2024, penelitian ini menunjukkan adanya perubahan dalam strategi representasi dan estetika visual. Perubahan tersebut juga mencerminkan bagaimana industri media merespons perkembangan wacana identitas serta meningkatnya penerimaan terhadap keberagaman di kawasan Asia Tenggara.
Sesi kedua menghadirkan Naufal Shabri, M.A. dengan penelitian berjudul “Praktik Produksi dan Distribusi Film Kelas B dalam Bingkai Politik Selera: Studi Kasus Kolong Sinema.” Dalam presentasinya, Naufal membahas bagaimana film kelas B sering diposisikan sebagai produk budaya alternatif di luar arus utama industri film. Melalui studi kasus komunitas Kolong Sinema, ia menjelaskan bagaimana proses produksi, distribusi, hingga konsumsi film kelas B dipengaruhi oleh apa yang disebut sebagai politik selera, yaitu dinamika preferensi budaya yang terbentuk melalui relasi kuasa, kelas sosial, dan akses terhadap media. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa film kelas B tidak semata-mata dipahami sebagai film dengan keterbatasan produksi, tetapi dapat menjadi ruang eksplorasi kreatif sekaligus medium kritik terhadap standar industri film komersial.
Melalui topik yang berbeda namun saling berkaitan, Research Week Day 1 membuka ruang diskusi mengenai bagaimana representasi visual, identitas, dan praktik produksi media saling berhubungan dalam membentuk budaya kontemporer. Kegiatan ini sekaligus menjadi pembuka dari rangkaian Research Week 2026, yang diharapkan dapat terus menjadi wadah pertukaran gagasan dan pengembangan riset lintas disiplin dalam bidang kajian budaya dan media dan medium memperkenalkan riset-riset yang bisa dilakukan di Prodi KBM.
Bagi yang terlewat kegiatan ini dan ingin menyimak kembali diskusi Research Week Day 1, bisa dilihat pada kanal Youtube KBM berikut: https://www.youtube.com/watch?v=zAvKn6oIxJQ

Kontributor: Averoes Fitria Maryam