Rangkaian Research Week 2026 kembali berlanjut pada hari ketiga yang diselenggarakan pada Jumat, 27 Februari 2026 pukul 13.00–15.00 WIB. Sesi ini mengangkat tema “Praksis Dekolonial Perempuan di Ruang Media,” yang menyoroti bagaimana perempuan dari perspektif non-Barat merepresentasikan pengalaman, identitas, dan kritik terhadap struktur kuasa dalam media dan budaya populer. Kegiatan ini dimoderatori oleh Dr. Krisna Megantari yang memandu diskusi secara interaktif. Dua pemateri yang hadir adalah Zahara Nisa Fadila, M.A. dan M. Fauzi Arrasyid, M.A. yang mempresentasikan riset mereka mengenai wacana dekolonial dalam karya sastra dan media digital.

Pada sesi pertama, Zahara Nisa Fadila, M.A. mempresentasikan penelitian berjudul “Menulis Ulang Hantu Perempuan Indonesia: Praksis Dekolonial Intan Paramaditha dalam Kumpulan Cerita Pendek Sihir Perempuan.” Dalam paparannya, Zahara membahas bagaimana karya sastra Intan Paramaditha menghadirkan reinterpretasi terhadap figur hantu perempuan yang selama ini sering diposisikan dalam narasi patriarkal. Melalui pendekatan dekolonial, figur tersebut direkonstruksi sebagai simbol perlawanan terhadap norma sosial yang mengekang perempuan. Penelitian ini menunjukkan bahwa karya sastra tidak hanya berfungsi sebagai produk estetika, tetapi juga sebagai medium kritik sosial yang memungkinkan pembacaan ulang terhadap relasi kuasa, gender, dan sejarah budaya di Indonesia.
Sesi kedua menghadirkan M. Fauzi Arrasyid, M.A. dengan penelitian berjudul “Pandangan Perempuan Non-Barat tentang Laki-laki Barat: Pembacaan Poskolonial atas Kanal YouTube The Filipina Pea.” Dalam presentasinya, Fauzi mengkaji bagaimana kanal YouTube The Filipina Pea menjadi ruang diskursif bagi perempuan dari Asia Tenggara untuk menyampaikan perspektif mereka terhadap laki-laki Barat. Melalui pendekatan poskolonial, penelitian ini menyoroti bagaimana narasi yang muncul di platform digital tersebut merefleksikan pengalaman lintas budaya, relasi kuasa global, serta negosiasi identitas dalam konteks globalisasi media. Studi ini menunjukkan bahwa media digital tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga ruang produksi wacana yang memungkinkan munculnya perspektif alternatif dari kelompok yang sebelumnya kurang terwakili dalam diskursus global.

Diskusi pada Research Week Day 3 berlangsung dinamis dengan berbagai tanggapan dari peserta terkait isu dekolonialitas, gender, dan representasi perempuan dalam media. Para peserta menyoroti pentingnya membaca ulang produk budaya baik sastra maupun media digital untuk memahami bagaimana pengalaman perempuan dari perspektif non-Barat dapat menghadirkan narasi yang lebih beragam dan kritis. Melalui topik-topik yang diangkat, sesi ini memperkaya rangkaian Research Week 2026 sebagai ruang pertukaran gagasan akademik yang mendorong kajian kritis terhadap relasi antara media, gender, dan kekuasaan dalam konteks global maupun lokal. Jika ingin menyaksikan ulang diskusi yang berlangsung pada kegiatan Research Week Day 3, rekaman dapat diakses melalui kanal YouTube KBM pada tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=SH15j-r-4tU
Kontributor: Averoes Fikria Maryam