Gelar Workshop Metodologi untuk Mahasiswa, Upaya KBM Tekankan Paradigma Kritis

KBM menyelenggarakan workshop metodologi penelitian bagi mahasiswa S3 untuk memberikan pemahaman yang komprehensif terkait peta metodologi penelitian serta praktik metodologi dalam Kajian Budaya dan Media, guna mendukung kualitas penelitian mahasiswa doktoral. Diisi oleh Prof. Dr. Heru Nugroho, workshop dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama dilaksanakan pada Rabu, (6/5) dengan materi mengenai Peta Metodologi Penelitian.
Pada pertemuan pertama ini, Prof. Heru Nugroho menjelaskan filsafat ilmu-ilmu sosial dan perkembangannya, mulai dari positivisme, interpretivisme, dan kritis. Lebih lanjut Prof. Heru, begitu ia akrab disapa, menjelaskan tentang tiga dasar filsafat keilmuan sosial yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi dan beberapa cara kerja yang kerap digunakan dalam penelitian ilmu sosial, seperti empirisme dan positivisme, pendekatan interpretatif, pendekatan kritis, feminisme, serta postrukturalisme dan posmodernisme. Masing-masing cara kerja tersebut, oleh Prof. Heru, dijabarkan penggunaannya beserta kelebihan dan kekurangannya, dan dilengkapi dengan contoh kasus algoritma internet dan media sosial.
Dalam workshop ini, Prof. Heru memaparkan tiga kepentingan pengetahuan, yaitu teknis, praktis, dan emansipatoris. Kepentingan teknis pengetahuan berarti pengetahuan diharapkan dapat melakukan kontrol dan prediksi, seperti dalam mempelajari statistik sosial dan big data. Kepentingan praktis dapat diartikan bahwa pengetahuan bermaksud untuk memahami makna atau melakukan interpretasi. Sedangkan kepentingan emansipatoris dapat dipahami bahwa pengetahuan harus mengarah pada pembebasan dari dominasi. Logika ilmu sosial harus mempertimbangkan ketiganya, tidak bisa hanya salah satu saja. Menurut Prof. Heru, posisi KBM tidak berdiri di satu pendekatan, tetapi bersifat interdisipliner yang menggabungkan interpretatif, teori kritis, postrukturalisme, dan posmodernisme. Fokus utama KBM adalah pada makna, representasi, identitas, ideologi, dan kekuasaan. KBM memandang media bukan sekadar teknologi, tetapi struktur (arsitektur) yang membuat realitas sosial. Dengan demikian, KBM berada di persimpangan pendekatan-pendekatan tersebut dengan fokus pada bagaimana media memproduksi makna, identitas, dan kekuasaan; bukan hanya sekadar mengukur data.
Sebelum workshop ditutup dengan sesi tanya jawab mahasiswa, Prof. Heru menekankan ulang bahwa mahasiswa dan penelitian di KBM harus selalu memelihara kecurigaan karena semangat KBM itu adalah mencurigai kerja kekuasaan. Workshop dilanjutkan ke bagian dua pada hari Senin, (11/5) bertempat di Ruang Sidang A, Lantai 5 Gedung Sekolah Pascasarjana UGM bersama Prof. Dr. Heru Nugroho yang akan membahas secara detail Metodologi Penelitian Kajian Budaya.
Kontributor: Adhani J. Emha

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*