Catatan Perjalanan Kuliah Lapangan di Bali: Sudut Pandang Mahasiswa

Apa yang terngiang di telinga Anda ketika mendengar tentang Bali? Pulau dengan seribu pura, yang masih kental dengan budaya lokalnya? Provinsi yang ramai dengan para turis? Keduanya tentu benar adanya, dengan latar belakang historis dan kontekstual yang menarik untuk ditelaah lebih jauh.

Pada tanggal 14 September 2026, staf dan mahasiswa Kajian Budaya dan Media SPs UGM berangkat dari Yogyakarta International Airport menuju Bandara Ngurah Rai, dalam rangka kuliah lapangan di Bali bersama Bapak Cahyo Triono S. dan Bapak Ngurah Badranaya, selaku pemandu wisata.

Sesampainya di Pulau Dewata, lokasi pertama yang dikunjungi ialah Museum Pasifika, yang terletak di Nusa Dua, Kuta Selatan, sekitar setengah jam dari bandara. Museum ini menyajikan beragam karya seni dari berbagai seniman, mulai dari seniman Indonesia, Barat, hingga Pasifik/Polinesia, dari masa ke masa. Seluruh warga KBM mengamati dan mengkaji kurasi seni pada museum tersebut, serta tema dan aliran yang tampak pada sebagian besar karya seni, mulai dari Orientalisme, Realisme, hingga Ekspresionisme, dsb.

Hari kedua diawali dengan kunjungan ke Pura Tirta Empul di Tampaksiring, yang juga menjadi kawasan salah satu Istana Presiden. Pemandian umum dari sumber mata air alami, yang menjadi sarana ritual melukat untuk pembersihan lahir-batin, menjadi daya tarik utama pura ini. Meski terbuka untuk umum, ada beberapa bagian pura yang tetap tidak boleh dimasuki sembarangan oleh selain umat Hindu Bali. Usai kunjungan, warga KBM mengunjungi daerah Kintamani untuk santap siang di restoran Grand Puncak Sari, sekaligus menikmati pemandangan alam sekitar Gunung Batur.

Selanjutnya, warga KBM turun dari Gilimanuk ke Pantai Melasti, Ungasan, untuk menonton pertunjukan Tari Kecak yang mengangkat cerita epik Ramayana, di mana Hanoman diutus oleh Dewa Rama untuk menyelamatkan Dewi Sinta yang diculik oleh Rahwana dari Alengka. Selain menonton sendratari yang unik dan memukau, warga KBM juga membaca relasi kuasa yang ada pada masyarakat Bali, seperti yang tampak pada tari Kecak.

Hari ketiga menjadi hari puncak kuliah lapangan di Bali. Para warga KBM datang ke ISI Bali, dengan sambutan hangat di ruangan Prodi Produksi Film dan Televisi (PFTV), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), serta penandatanganan MoU antara kedua pihak. Di sana, warga KBM dan PFTV menonton sejumlah karya dari para mahasiswa PFTV, mulai dari dokumenter yang menyorot kehidupan kaum transpuan Denpasar, dokumenter biografi Abu Bakar (dramawan yang dijuluki “Bapak Drama Modern Bali”), film “Cening Nepukin I Kawa”, hingga dokumenter “Scarecrow,” yang mengupas dampak alih fungsi tanah pertanian menjadi properti di Ubud. Selain itu, dilaksanakan juga workshop bertema Inclusive Visual Storytelling, serta tur Museum ISI Bali. Dari kuliah lapangan ini, diharapkan kedua belah pihak dapat melanjutkan kerja sama yang berkelanjutan. Hari keempat menjadi hari terakhir bagi warga KBM di Bali, yang akhirnya pulang kembali ke Yogyakarta, dengan ilmu dan wawasan baru terkait masyarakat dan budaya Bali.

Kontributor: Taufan Atalarik

Dokumentasi: Adhani J. Emha

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*