Diseminasi Penelitian: When Music Goes Viral

Yogyakarta, (10/10), Jum’at siang, Program Studi Kajian Budaya dan Media (KBM) Sekolah Pascasarjana Universitas Gajah Mada Kembali mengadakan kegiatan Research Sharing yang terbuka untuk umum. Pada kesempatan kali ini, Aurelia Putri Rifito., S.IKom., M.Sc., CELTA membahas topik “When Music Goes Viral: How Does Online Backlash Impact Garam & Madu’s Singers and Indonesia’s Policy”.

Dalam kegiatan sharing ini, Aurelia membahas fenomena viralitas musik di era digital serta dampak sosial dan kebijakan yang muncul akibat reaksi publik terhadap musisi zaman sekarang dan karya mereka. Topik ini menjadi sangat relevan di tengah berkembangnya dinamika budaya popular dan media sosial di Indonesia, terutama dalam konteks bagaimana arus digital mempengaruhi persepsi, opini publik, dan kebijakan negara terhadap industri musik. Aurelia bukan hanya berbagi tentang penelitiannya saja, tapi juga memberikan tips-tips bagaimana tahapan kita melakukan riset atau mempermudah kita melakukan sebuah penelitian.

Pernyataan penyanyi Garam & Madu menunjukkan bahwa kritik yang mereka terima di media sosial bukan semata karena karya musik mereka, melainkan karena pergeseran budaya musik itu sendiri. Mereka mencoba menggabungkan dangdut dengan hiphop, sebuah inovasi yang dianggap oleh sebagian Masyarakat Indonesia sebagai bentuk perubahan yang belum sepenuhnya diterima. Selain itu, penyanyi ini juga menyoroti bahwa lingkungan industri musik di Indonesia masih kurang peduli terhadap kesehatan mental musisi, tekanan dari komentar negatif di media sosial sering kali berdampak emosional. Namun demikian banyak musisi memilih menghindar daripada mengadapi isu tersebut secara terbuk dengan mengafirmasi diri mereka bahwa dampak positif dari kontroversi tersebut salah satunya engangement mereka juga akan naik.

Penelitian ini menyoroti bahwa sebagian artis Indonesia masih mengandalkan kontroversi untuk mendapatkan perhatian publik karena lemahnya sistem dukungan dalam industri kreatif nasional. Fenomena tersebut mencerminkan ketidaksiapan kebijakan pemerintah dalam melindungi kesejahteraan musisi, terutama terkait kesehatan mental dan dampak sosial dari kebencian daring (online backlash). Dari penelitian yang dilakukan, muncul usulan utama dari Aurelia yaitu pembentukan Lembaga atau unit khusus kesejahteraan pekerja kreatif di bawah kebijakan nasional. Lembaga ini diharapkan dapat memberikan dukungan menyeluruh baik finansial, hukum, maupun psikologis serta mendorong perubahan paradigma bahwa ketenaran tidak harus diperoleh melalui kontroversi atau konflik di media sosial.

Foto Bersama

Kontributor: Dara Akhina

Dokumentasi: Adhani J. Emha

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*