Kehangatan yang Mengudara di Penutupan Lustrum ke-4 KBM

Rangkaian Puncak Lustrum ke-4 yang menandai 20 tahun berdirinya program studi Kajian Budaya dan Media (KBM) telah berakhir. Acara puncak yang dimulai dengan kuliah umum bersama Prof. Dr. Mike Featherstone dan Dr. Tomoko Tamari pada 6-7 November 2025, hari Sabtu (15/11) ditutup dengan dua acara. Peluncuran buku Sang Liyan; Cerita-Cerita dari Garis Batas serta Media dan Identitas; Stereotipe, Beban Representasi, dan Politik Identitas kemudian dilanjutkan dengan talkshow bersama Prof. Dr. Heru Nugroho dan Dr. Pratama Persadha bertajuk “Dari Tatapan Subjek ke Visi Digital: Visualitas dan Relasi di Era Posthuman”. 

Dalam talkshow, Prof. Heru Nugroho dan Dr. Pratama Persadha bergantian menyuguhkan keresahan sekaligus refleksi kritis tentang perubahan cara kita memandang dunia, dari mata manusia ke sorot mesin dan data. Prof. Heru menelusuri sejarah panjang tatapan–mulai Foucault hingga James Bridle–sembari menegaskan bahwa kekuatan algoritma hari ini bukan cuma mengganti “siapa yang melihat”, tapi juga mengubah logika dan kuasa tatapan itu sendiri. Di era algoritma, manusia sebagai subjek nyaris hilang, tergantikan profil data. Di samping itu, Dr. Pratama membawakan isu-isu keamanan data visual dan “penjajahan bahagia” di platform digital. Ia menyampaikan bahwa 357 juta wajah orang Indonesia sudah bisa diperjualbelikan di internet. Machine learning dan face recognition memosisikan kita bukan lagi pemilik identitas digital, tapi sekadar objek dan aset ekonomi. 

 

Setelah talkshow berikut sesi diskusi yang menarik, Lustrum ke-4 resmi ditutup dengan closing speech dari Dr. Ratna Noviani, S.I.P, M.Si. selaku Ketua Program Studi S2 dan Dr. Budiawan selaku Ketua Program Studi S3 KBM. Namun, acara yang berlangsung di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) tidak berakhir di situ. Suasana justru dibuat semakin hangat dengan pembacaan puisi, flashmob, dan sesi karaoke sembari makan siang bersama. Tawa, tepuk tangan, dan sorak sorai mengisi seluruh ruangan. Menunjukkan ‘sisi lain’ keluarga besar KBM di luar bingkai kegiatan akademik. 

 

Lustrum ke-4 KBM lebih dari sekadar perayaan ulang tahun biasa. Rangkaian acara ini menjadi kesempatan belajar bagi mahasiswa, sekaligus tanpa sengaja menjadi ajang reuni bagi banyak alumni. Lebih dari itu, Lustrum ke-4 juga menandai kesiapan KBM menghadapi tantangan 20 tahun berikutnya. 

 

Kontributor: Fatimah Vitri Imania

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*