Pada Senin (11/5), Program Studi S3 Kajian Budaya dan Media (KBM) melanjutkan rangkaian Workshop Metodologi Penelitian. Sama seperti pada pertemuan pertama, sesi kedua workshop ini kembali dipandu oleh Prof. Heru Nugroho. Jika pada pertemuan sebelumnya Prof. Heru banyak membahas filsafat ilmu-ilmu sosial beserta cara kerjanya, serta posisi dan fokus utama KBM, maka pada pertemuan kedua ini pembahasan difokuskan pada tradisi keilmuan yang memengaruhi penyusunan proposal penelitian, khususnya tradisi Anglo-Saxon dan Eropa Daratan.

Dalam pemaparannya, Prof. Heru menjelaskan bahwa proposal penelitian, terutama untuk kepentingan penulisan disertasi, harus mampu menunjukkan feasibility atau kelayakan penelitian untuk dikerjakan, serta operational clarity atau kejelasan operasional penelitian. Kedua aspek tersebut dinilai penting agar penelitian tidak hanya menarik secara konseptual, tetapi juga dapat dilaksanakan secara sistematis dan terukur.
Lebih lanjut, Prof. Heru menguraikan persamaan sekaligus perbedaan antara tradisi pragmatis Anglo-Saxon dan tradisi Eropa Daratan. Menurutnya, tradisi keilmuan Anglo-Saxon memiliki kekuatan dalam memetakan sistem dan konstruksi sosial secara sistematis. Sementara itu, tradisi Eropa Daratan lebih kuat dalam melakukan kritik terhadap struktur kekuasaan, analisis ideologi, serta membongkar asumsi-asumsi tersembunyi di balik realitas sosial.

Sebelum menjelaskan format susunan disertasi di KBM, Prof. Heru kembali menekankan pentingnya logika epistemologis dalam penelitian. Ia menjelaskan bahwa penelitian yang baik harus memiliki keselarasan antara cara memandang realitas (ontologi), cara memahami pengetahuan (epistemologi), dan metode penelitian yang digunakan. Oleh karena itu, dalam tradisi akademik KBM, posisi paradigma penelitian menjadi sangat penting. Selain itu, penelitian juga harus menunjukkan konsistensi logika antara paradigma yang dipilih dengan fokus penelitian yang dikaji.

Kontributor: Adhani Juniasyaroh Emha