
Sebagai bagian dari mata kuliah Branding dan Budaya Promosi, Program Studi S2 KBM menyelenggarakan Discussion Series dengan tajuk “Branding the Faith” pada Rabu dan Kamis, 29-30 April 2026 bertempat di Ruang 307 Gedung Sekolah Pascasarjana Lantai 3. Pada hari pertama, Dr. Leonard Chrysostomos Epafras menjelaskan tentang “Branding dan Komodifikasi Spiritualitas.” Di hadapan 60 orang peserta, Dr. Leo, begitu ia biasa disapa, membuka kegiatan dengan meminta para peserta berdiri dan bernyanyi bersama agar peserta lebih bersemangat.

Diskusi dilanjutkan dengan pertanyaan “What is religion?” dan “What is not religion?” Menurut Dr. Leo, agama sudah tidak lagi bisa dilihat semata-mata secara transendental, institusional, dan substansial. Institusi agama saat ini mengadopsi kapitalisme media untuk dapat bertahan di “pasar spiritualitas”, dan sebaliknya, banyak produk kapitalisme yang dibungkus dengan nilai-nilai agama. Dengan demikian, branding the faith bermakna identitas, diferensiasi, dan agregat makna, ekspektasi, dan resonansi emosi terhadap sebuah produk, sedangkan agama sendiri adalah sebuah produk. Selayaknya produk, agama perlu untuk dipasarkan.

Pada pertemuan kedua, Dr. Leo meneruskan materi yang disampaikan di pertemuan pertama tentang komodifikasi agama. Ia membuka dengan menganalogikan agama dengan filosofi furoshiki wrap (seni membungkus dari Jepang) yang memiliki pesan bahwa kemasan pun sama pentingnya dengan isi. Dari sini, pembahasan berkembang ke arah komodifikasi agama yang terjadi ketika nilai tukar mendominasi dan mengambil alih nilai manfaat. “Dalam reifikasi agama, agama yang merupakan konsep abstrak, relasi sosial, atau kualitas manusia berubah menjadi ‘barang’ yang ‘terukur’,” demikian Dr. Leo mengutip konsep reifikasi Georg Likacs. Selain itu, ia juga menjelaskan perkelindanan logika sakral dan sekuler di masyarakat kontemporer di mana saral mengadopsi branding dan logika marketing, sedangkan sekuler mengadopsi model “dakwah” dan “misionaris” untuk menciptakan konsumen loyalis. Paparan ditutup dengan konsep teknofeodalisme milik Yanis Varoufakis, yakni ‘tuan tanah’ luas teknologi saat ini adalah perusahaan teknologi besar seperti Meta, Apple, dan lain-lain yang membuat institusi keagamaan maupun individu dan korporat iman harus mengadopsi kapitalisme media.
Kontributor: Adhani J. Emha